BAB I
PENDAHULUAN
1.I. Latar Belakang
Setiap individu diciptakan dengan sistem indera yang
digunakan yang lengkap untuk mampu berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat diperoleh melalui indera, yaitu
mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Informasi tersebut dihantarkan ke otak
untuk diolah dan diartikan sehingga individu dapat melihat, mendengar, mencium,
mengecap, dan meraba. Jadi, masing-masing alat indra memiliki kepekaan terhadap
rangsangan dari luar yang disebut reseptor (Setiadi, 2007).
Alat indera kita memiliki bagian yang dapat
menerima rangsang berupa ujung-ujung saraf sensorik atau sel-sel reseptor. Satu
macam reseptor hanya mampu menanggapi satu macam rangsangan, rangsangan
yang diterima oieh sel reseptor terlebih dulu diubah menjadi impuls saraf dan
kemudian dihantarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut saraf
sensorik. Di dalam pusat susunan saraf, impuls saraf tersebut diolah dan
diartikan sehingga individu mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita.
Setelah itu, otak memerintahkan jenis tanggapan yang akan diberikan. Perintah
dari otak disampaikan ke otot atau kelenjar sebagai efektor yang bertugas
memberi tanggapan terhadap rangsang tersebut (Setiadi, 2007).
Tubuh manusia mempunyai indera yang
berfungsi sebagai reseptor atau penerima rangsangan dari lingkungan sekitar.
Manusia mempunyai lima macam indera yaitu indera penglihatan (mata), indera
pendengaran (telinga), indera penciuman/pembau (hidung), indera pengecap
(lidah), dan indera peraba (kulit) (Setiadi, 2007).
Adapun hubungan percobaan dalam bidang farmasi
yaitu karena dalam bidang farmasi juga diperlukan pengetahuan mengenai sistem
indera yang berhubungan dengan pemerian obat dan mekanisme kerja obat terhadap
sistem indera tersebut. (Setiadi, 2007).
1.2 Maksud
dan Tujuan
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
dan memahami anatomi serta fisiologi Mengetahui
dan memahami anatomi dan fisiologi sistem indera.
Adapun tujuan
dalam laporan praktikum anatomi serta fisiologi sistem indera yaitu untuk Mengetahui anatomi dan fisiologi
sistem indra pada manusia serta fungsi dari sistem indra.
1.3
Prinsip
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
pada febriyanti dan fitranto sebagai probandus yang diamati gerak refleks dilakukan
pengujian terhadap dua alat indera yaitu, indera penglihatan (mata), dan indra
peraba ( kulit )
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 LandasanTeori
Indera ini
berfungsi untuk mengenali setiap perubahan lingkungan, baik yang terjadi di
dalam maupun di luar tubuh. Indera yang ada pada makhluk hidup, memiliki
sel-sel reseptor khusus. Sel-sel reseptor inilah yang berfungsi untuk mengenali
perubahan lingkungan yang terjadi. Berdasarkan fungsinya, sel-sel reseptor ini
dibagi menjadi dua, yaitu interoreseptor dan eksoreseptor. (Moriwaki, K. 2012).
Interoreseptor ini berfungsi untuk mengenali perubahan-perubahan yang
terjadi di dalam tubuh. Sel-sel interoreseptor terdapat pada sel otot, tendon,
ligamentum, sendi, dinding pembuluh darah, dinding saluran pencernaan, dan lain
sebagainya. Sel-sel ini dapat mengenali berbagai perubahan yang ada di dalam
tubuh seperti terjadi rasa nyeri di dalam tubuh, kadar oksigen menurun, kadar
glukosa, tekanan darah menurun/naik dan lain sebagainya.(Moriwaki,2012).
Eksoreseptor
adalah kebalikan dari interoreseptor, eksoreseptor berfungsi untuk mengenali
perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi di luar tubuh. Yang termasuk
eksoreseptor yaitu: (1) Indera penglihat (mata), indera ini berfungsi untuk mengenali
perubahan lingkungan seperti sinar, warna dan lain sebagainya. (2) Indera
pendengar (telinga), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan
seperti suara. (3) Indera peraba (kulit), indera ini berfungsi untuk mengenali
perubahan lingkungan seperti panas, dingin dan lain sebagainya. (4) Indera
pengecap (lidah), indera ini berfungsi untuk mengenal perubahan lingkungan
seperti mengecap rasa manis, pahit dan lain sebagainya. (5) Indera pembau
(hidung), indera ini berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan seperti
mengenali/mencium bau. Kelima indera ini biasa kita kenal dengan sebutan panca
indera.(Moriwaki, 2012).
Sistem indera pada
manusia dibagi menjadi :
1. Indera Penglihatan (Mata)
Mata adalah
organ penglihatan yang menerima rangsangan berupa cahaya. Bola mata
terletak di dalam rongga mata dan beralaskan lapisan lemak. Bola mata
dapat bergerak dan diarahkan kesuatu arah dengan bantuan tiga otot
penggerak mata, yaitu (Arrington, 2010) :
1.
Muskulus rektus okuli medial (otot di sekitar
mata), berfungsi menggerakkan bola mata.
2.
Muskulus
obliques okuli inferior, berfungsi menggerakkan bola mata ke bawah dan ke
dalam.
3.
Muskulus obliques okuli superior,
berfungsi memutar mata ke atas dan ke bawah.
Selain itu, ada otot mata yang berfungsi menutup mata dan
mengangkat kelopak mata. Otot yang berfungsi untuk menutup mata yaitu
muskulus orbikularis okuli dan muskulus rektus okuli inferior. Sedangkan
otot mata yang berfungsi mengangkat kelopak mata, yaitu muskulus levator
palpebralis superior (Arrington, 2010).
2. Indera
Pendengaran dan Keseimbangan (Telinga)
Telinga merupakan alat indera yang peka
terhadap rangsangan berupa gelombang suara. Telinga manusia
mampu mendengar suara dengan frekuensi antara 20-20.000 Hz. Selain
sebagai alat pendengaran, telinga juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh manusia
(Pearce, 2009).
a. Bagian-bagian
telinga:
Telinga manusia dapat dibedakan menjadi
tiga bagian, yaitu bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam.
1.
Telinga bagian luar
Telinga bagian luar terdiri atas:
§ Daun telinga,
berfungsi untuk menampung getaran.
§ Saluran
telinga luar atau lubang telinga, berfungsi menyalurkan getaran.
§ Kelenjar
minyak, berfungsi menyaring udara yang masuk sebagai pembawa gelombang suara.
§ Membran
timpani atau selaput gendang, berfungsi menerima dan memperbesar getaran suara.
2. Telinga bagian tengah
§ Telinga
bagian tengah terletak di sebelah dalam membran timpani. Fungsi dari telinga
bagian tengah adalah untuk meneruskan getaran dari suara telinga bagian luar ke
telinga bagian dalam. Pada telinga tengah terdapat saluran Eustachius dan tiga
tulang pendengaran.
§ Saluran
Eustachius, berfungsi untuk mengurangi tekanan udara di telinga tengah sehingga
tekanan udara di luar dan di dalam akan sama. Keseimbangan tekanan ini akan
menjaga gendang telinga supaya tidak rusak. Saluran ini akan tertutup dalam
keadaan biasa, dan akan terbuka jika kita menelan sesuatu.
§ Tulang
pendengaran, berfungsi untuk mengantarkan dan memperbesar getaran ke telinga
bagian dalam. Tulang pendengaran ada tiga, yaitu tulang martil, tulang
landasan, dan tulang sanggurdi. Tulangtulang ini menghubungkan gendang
telinga dan tingkap jorong.
3. Telinga bagian dalam
Telinga
bagian dalam berfungsi mengantarkan getaran suara ke pusat pendengaran oleh
urat saraf. Penyusun telinga bagian dalam adalah sebagai berikut.
§ Tingkap jorong, berfungsi menerima dan menyampaikan
getaran.
§ Rumah siput,
berfungsi menerima, memperbesar, dan menyampaikan getaran suara ke saraf
pendengaran. Di dalam saluran rumah sifut terdapat cairan limfe dan terdapat
ujung-ujung saraf pendengaran.
§ Tiga saluran
setengah lingkaran, berfungsi sebagai alat untuk mengetahui posisi tubuh dan
menjaga keseimbangan. (Pearce, 2009)
b. Mekanisme kerja
pendengaran
Suara yang kita dengar akan ditangkap oleh daun
telinga, kemudian sampai ke gendang telinga sehingga membuat gendang telinga
bergetar. Getaran ini diteruskan oleh tiga tulang pendengaran ke tingkap jorong
dan diteruskan ke rumah siput. Di dalam rumah siput, cairan limfe akan bergetar
sehingga meransang ujung-ujung saraf pendengaran dan menimbulkan impuls saraf
yang ditujukan ke otak (Pearce, 2009).
3. Indera
penciuman/pembau (Hidung)
Hidung adalah alat indera yang menanggapi rangsangan
berupa bau atau zat kimia yang berupa gas. Di dalam rongga hidung
terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi dengan sel-sel pembau. Setiap sel
pembau mempunyai rambut-rambut halus (silia olfaktori) di ujungnya dan diliputi
oleh selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembab rongga hidung. Daerah yang
sensitif terhadap bau terletak pada bagian atap rongga hidung. Pada daerah
sensitif ini terdapat 2 jenis sel sebagai berikut) :
1.
Sel
penyokong berupa epitel-epitel.
2.
Sel-sel
pembau sebagai reseptor yang berupa sel-sel saraf.
Sel-sel pembau mempunyai ujung dendrit berbentuk
rambut. Adaptasi terhadap bau-bauan mula-mula berjalan cepat dalam 2 – 3 detik,
tetapi kemudian berjalan lebih lambat. Keistimewaan indera pembau manusia
adalah dapat membaui sesuatu walau kadarnya di udara sangat sedikit. Beberapa
hewan memiliki indera pembau yang lebih sensitif karena mempunyai reseptor
pembau lebih banyak. (Hau, 2003)
Pada saat kita
bernapas, zat kimia yang berupa gas ikut masuk ke dalam hidung kita. Zat kimia
yang merupakan sumber bau akan dilarutkan pada selaput lendir, kemudian akan
meransang rambut-rambut halus pada sel pembau. Sel pembau akan meneruskan
rangsangan ini ke otak dan akan diolah sehingga kita bisa mengetahui jenis bau
dari zat kimia tersebut. (Hau, 2003)
4. Indera Pengecap (Lidah)
Lidah adalah alat indera yang peka terhadap rangsangan
berupa zat kimia larutan. Lidah
memiliki otot yang tebal, permukaannya dilindungi oleh lendir dan penuh dengan
bintil-bintil. Kita dapat merasakan rasa pada lidah karena terdapat reseptor yang
dapat menerima rangsangan. Reseptor itu adalah papilla pengecap atau kuncup
pengecap. Kuncup pengecap merupakan kumpulan ujung-ujung saraf yang terdapat
pada bintil-bintil lidah. Papilla agak kasar karena memiliki tonjolan-tonjolan
pada permukaan lidah. Di dalam papila terdapat banyak kuncup-kuncup pengecap
(taste bud) yaitu suatu bagian berbentuk bundar yang terdiri dari dua jenis sel
yaitu sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap yang berfungsi sebagai reseptor
(Pearce, 2009).
Ganguan yang bersifat permanent misalnya terjadi padan
orang yang mengalami trauma pada bagian tertentu otak. Pada lidah juga sering
terjadi iritasi karena luka atau kekurangan vitamin C (Pearce, 2009).
5.
Indera Peraba (Kulit)
Selain
menghasilkan keringat, pada bagian dermis terdapat ujung saraf sebagai reseptor
peraba. Kulit adalah alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa
sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan nyeri atau sakit. Kepekaan tersebut
disebabkan karena adanya ujung-ujung saraf yang ada pada kulit. Biasanya
ujung saraf indera peraba ada dua macam, yaitu ujung saraf bebas yang
mendeteksi rasa nyeri atau sakit, dan ujung saraf yang berselaput (berpapilia).
Sel peraba juga terdapat pada pangkal rambut. Sehingga bila rambut yang muncul
di permukaan kulit tersentuh oleh suatu benda, sel-sel saraf akan terangsang
(Sulaksono, 2006).
Kulit
merupakan organ tubuh yang paling luas, pada orang dewasa luasnya sekitar 1,9
m2. Meskipun seluruh permukaan kulit mempunyai reseptor peraba, keberadaan
ujung-ujung saraf ini tidak merata pada berbagai alat tubuh. Permukaan kulit
yang mempunyai banyak ujung-ujung saraf peraba ialah ujung jari telunjuk,
telapak tangan, telapak kaki, bibir, dan daerah kemaluan. Oleh karena itu daerah-daerah
ini sangat peka terhadap rangsangan berupa sentuhan. Seorang tuna netra
memanfaatkan kepekaan indera perabanya untuk membaca huruf Braille (Sulaksono, 2006).
II.2
Uraian Bahan
1.
Aquadest (FI Edisi III, Hal 96)
Nama Resmi :AQUA DESTILLATA
Nama Lain :Aquadest, air suling
Rumus Molekul :H2O
Berat Molekul :18,02
Pemerian :Cairan tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa
Kelarutan :Larut dengan semua jenis larutan
Penyimpanan :Dalam wadah
tertutup kedap
Kegunaan :Zat
pelarut
2. Kapas (FI Edisi III,
Hal 277)
Nama
resmi :
GOSSYPIUM DEPURATUM
Nama lain : Kapas murni
Pemerian :
Hampir tidak berbau, praktis, dan tidak berubah
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Pembalut
II.3 Uraian Probandus
Regnum :
Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Ordo : Rodentia.
Genus : Phytecantropus
Species : Phitecantropus erectus.
BAB
III
METODE
KERJA
III.1 Waktu dan Tempat
Hari/tanggal
: Senin, 05 Desember 2016
Waktu
: Pukul 08.00 s.d. 10.30 WITA
Tempat
: Laboratorium Kimia Lantai II STIKES MW
Kendari
III.2
Alat
Alat
yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Martil
refleks
2. Kursi
III.3
Bahan
Bahan yang
digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Aqudest
2.
Kapas
3.
Probandus
III.4
Cara Kerja
Setiap
anggota kelompok
ditunjuk sebagai probandus. Catatlah data probandus.
1. Refleks
Lutut
1. Probandus
duduk bertumpang kaki (kaki kanan di atas) dan mengalihkan perhatiannya ke
sekeliling
2.
Penguji memukul ligamentum patellae kaki
kanan probandus (kaki yang tertutup, diatas) dengan martil refleks
3. Diamati
gerak refleks yang terjadi, dicatat hasilnya.
2. Refleks
Tumit
1. Probandus
berdiri dengan kaki kiri dibengkokan dan diletakan pada kursi. Probandus
mengalihkan perhatiannya ke sekeliling
2. Penguji
memukul tendo Achilles kaki kiri probandus (yang dibengkokan) dengan martil
refleks
3. Diamati
dan catat gerak refleks yang terjadi.
3. Refleks
Bisep
1. Lengan
kanan probandus diluruskan secara pasif dan diletakan diatas meja. Probandus
mengalihkan perhatiannya ke sekeliling
2.
Penguji memukul tendom bisep brakii
lengan tersebut dengan martil refleks
3. Diamati
dan catat gerak refleks yang terjadi
4.
Refleks Trisep
1.
Lengan kiri probandus dibengkokkan
secara pasif. Dialihkan perhatian probandus ke sekelilingnya
2.
Penguji memukul tendom trisep brakii
lengan tersebut dengan martil reflesk
3.
Diamati dan dicatat gerak refleks yang
terjadi
5.
Refleks
Mengejap
1.
Probandus membuka kedua matanya dan
mengarahkan pandangannya ketitik yang jauh.
2.
Penguji menyentuh permukaan kornea mata
kanan probandus dengan ujung kapas yang telah dibasahi dengan aquadest
3.
Diamati dan dicatat gerak refleks yang
terjadi.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1
Hasil Pengamatan
Nama probandus : MAGFIRA RAHMAYANI
Jenis keamin : perempuan
Umur probandus
: 18 tahun
Tinggi badan : 158 cm
Berat badan : 48 kg
|
NO.
|
Macam refleks
|
Kanan
|
Kiri
|
Ada
|
Tidak ada
|
|
1.
|
Refleks lutut
|
Kanan
|
|
ü
|
_
|
|
2.
|
Refleks tumit
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
|
3.
|
Refleks trisep
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
|
|
Refleks bisep
|
Kanan
|
|
ü
|
_
|
|
5.
|
Refleks mengejap mata
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
Nama probandus : FADLIK FASOLEY
Jenis keamin : Laki-laki
Umur probandus
: 18 tahun
Tinggi badan : 158 cm
Berat badan : 48 kg
|
NO.
|
Macam refleks
|
Kanan
|
Kiri
|
Ada
|
Tidak ada
|
|
1.
|
Refleks lutut
|
Kanan
|
|
ü
|
_
|
|
2.
|
Refleks tumit
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
|
3.
|
Refleks trisep
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
|
|
Refleks bisep
|
Kanan
|
|
ü
|
_
|
|
5.
|
Refleks mengejap mata
|
|
kiri
|
ü
|
_
|
IV.2
Pembahasan
Tubuh
manusia mempunyai panca indra, yaitu mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung.
Dengan memiliki indra tersebut, maka manusia mampu mengenal lingkungannya dan
memberikan respons terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan
tersebu.
Alat indera adalah organ yang berfungsi untuk menerima jenis rangsangan
tertentu. Semua organisme memiliki reseptor sebagai alat penerima informasi.
Informasi tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar.
Reseptor diberi nama berdasarkan jenis rangsangan yang diterimanya:
1. Kemoreseptor berfungsi sebagai penerima rangsang zat
kimia, contohnya bau dan rasa.
2.
Fotoreseptor berfungsi sebagai penerima rangsangan
cahaya yang berupa energi elektromagnetik.
3. Audioreseptor
berfungsi sebagai penerima rangsangan suara.
4. Mekanoreseptor
berfungsi sebagai penerima rangsangan fisik, seperti tekanan, sentuhan, dan
getaran.
5. Eksoreseptor
berfungsi mengenali perubahan lingkungan luar.
6. Interoreseptor
berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam tubuh. Interoreseptor terdapat di
seluruh tubuh manusia.
Eksoreseptor yang kita kenal ada lima
macam, yaitu indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra peraba
(kulit), indra pengecap (lidah), indra pembau (hidung).
Pada percobaan ini dilakukan pengujian
terhadap dua alat indera yaitu, indera penglihatan (mata), dan indra peraba (
kulit ). Dimana pada pengujian terhadap indera penglihatan dilakukan dengan
menyentuk permukaan kornea probandus dan diamati gerak refleksnya.pengujian
dengan cara memukul probandus pada bagian lutut, tumit, bisep dan trisep dengan
martil reflex.
Adapun alat yang digunakan pada
percobaan ini adalah martil refleks dan kursi. Dan bahan yang digunakan dalam percobaan
ini adalah aquadest, kapas, dan probandus.Adapun cara
kerja pada percobaan ini yaitu: Ditunjuk salah-satu anggota kelompok
sebagai probandus. Di catatlah data probandus.
Indra
Peraba ( kulit )
Disiapkan alat dan
bahan .Diambil martil refleks lalu dipukulkan pada lutut, tumit, bisep, dan
trisep. Diamati dan dicatat gerak reflex yang terjadi.
Indra
Penglihatan ( mengejap )
Dibuka kedua mata probandus dan
diarahkan pandangannya ketitik yang jauh. Diuji permukaan kornea mata kanan
probandus yang disentuh dengan ujung kap yang telah dibasahi dengan aquades. Diamati
dan dicatat gerak refleks yang terjadi.
Pada
percobaan diperoleh hasil yaitu pada pengujian terhadap indera peraba (kulit) dan indra penglihatan ( mata ),
dengan memukul pada bagian tumit, lutut, bisep dan trisep serta mengerjapkan
mata .Pada percobaan ini, semua anggota kelompok menjadi probandus. Probandus
Febryanti Husni pada bagian lutut, tumit, bisep dan trisep serta mata mengalami
gerak refleks, berarti anggota tubuh Febry masih normal.
Untuk menggerakkan
tubuh manusia, harus ada perintah ke sayaf, di sini diketahui bahwa perintah
itu gerakan itu ada yang disadari dan ada yang tidak disadari. Gerakan yang
disadari adalah gerakan yang memang benar-benar perintah dari otak, sedangkan
gerakan yang tidak disadari tiba-tiba terjadi yang disebabkan karena kaget atau
yang lainnya (refleks). Refleks adalah jawaban terhadap suatu rangsangan
gerakan yang timbul disebut gerak reflaks.
Semua
gerakan refleks merupakan gerakan yang angkit untuk penyesuaian diri, baik
untuk menjalin gerakan ketangkasan valunter, maupun untuk membela diri.Gerakan
reflex tidak saja dilaksanakan oleh anggota gerak tetapi setiap otot lurik
dapat melakukanerakan refleks, lagi pula perangsangnya tidak saja terdapat pada
permukaan tubuh, akan tetapi semua impuls persefrip dapat merangsang gerakan
reflex termasuk impuls panca indra.
Setiap suatu
rangsangan dijawab dengan bangkitnya suatu gerakan menandakan bahwa antara
daerah yang dirangsang bergerak secara
refleksitu terdapat hubungan lintasan yang menghubungkan reseptor dan efektor
itu dikenal sebagai busur reflex. Urutan perjalanan gerak reflex menyampaikan
impuls yaitu: Rangsangan, reseptor, neuron sensori, sum-sum tulang belakang,
neuron mtorik, dan efektor.
Adapun faktor-faktor yang dapat memicu
terjadinya kesalahan dalam percobaan yang dilakukan yaitu berupa metode kerja
pengujian yang tidak sesuai dan adanya kerusakan fungsi dari organ indera yang
diujikan.
Adapun hubungan percobaan dalam bidang farmasi yaitu karena dalam bidang
farmasi juga diperlukan pengetahuan mengenai sistem indera yang berhubungan
dengan pemerian obat dan mekanisme kerja obat terhadap sistem indera tersebut.
BAB V
PENUTUP
V.1
Kesimpulan
Berdasakan hasil pengamatan yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa gerak refleks adalah gerakan yang
tidak disadari yang timbul karena adanya rangsangan dan merupakan mekanisme
pertahanan tubuh yang terjadi jauh lebih cepat dari gerak biasa. Gerak refleks
ada yang monosinaps dan polisinaps. Refleks monosinaps apabila gerakan yang
terjadi hanya satu sedangkan refleks polisinaps apabila gerakan yang terjadi terdiri
dari dua atau lebih gerakan.
V.2
Saran
Dari pemaparan diatas, kami memberikan
saran agar dalam ilmu kesehatan maupun ilmu alam lainnya penting sekali memahai
anatomi sistem indera secara tepat agar
terhindar dari kesalahan dalam tindakan baik itu dirumah sakit maupun di alam
yang berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh akibat kurangnya aktifitas positif
untuk memberikan kesehatan terhadap anatomi system indra.
DAFTAR
PUSTAKA
Arrington, L. 2010. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang:
Media Prasetya.
DEPKES RI., 1979. Farmakope
Indonesia Edisi lll : Departemen Kesehatan RI: Jakarta.
Hau, 2003. Anatomi dan Fisiologi
manusia: Jakarta
Moriwaki, K. 2012. Anatomi dan Fisiologi Manusia.
Jakarta: EGC.
Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi
dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: EGC.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi untuk Manusia.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sulaksono, 2006.
Anatomi dan Fisiologi untuk Kefarmasian: Jakarta : EGC
Komentar
Posting Komentar